Kawasan pegunungan Bromo tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memukau, tetapi juga menyimpan kisah cinta yang melegenda. Masyarakat suku Tengger percaya bahwa asal usul keberadaan mereka berawal dari Legenda Roro Anteng dan suaminya, Joko Seger. Kisah ini menjadi fondasi spiritual yang sangat kuat bagi kehidupan sosial dan budaya penduduk setempat.
Pasangan ini dikisahkan membangun pemukiman di kaki gunung setelah melewati berbagai rintangan yang cukup berat dan menantang. Nama Tengger sendiri diambil dari gabungan nama belakang mereka berdua, yakni “Anteng” dan “Seger” sebagai simbol persatuan. Keharmonisan hidup dalam Legenda Roro Anteng menjadi teladan bagi masyarakat dalam menjaga kerukunan serta kelestarian alam.
Meskipun hidup bahagia, pasangan ini sempat merasa sedih karena tidak kunjung dikaruniai keturunan setelah bertahun-tahun menikah. Mereka akhirnya bersemedi di puncak kawah Bromo untuk memohon anugerah anak kepada Sang Hyang Widhi. Dalam Legenda Roro Anteng, permohonan mereka dikabulkan dengan syarat anak bungsu mereka harus dikorbankan kembali ke kawah.
Setelah memiliki dua puluh lima anak, tibalah saatnya bagi mereka untuk memenuhi janji suci yang telah diucapkan sebelumnya. Anak bungsu yang bernama Raden Kusuma akhirnya menceburkan diri ke dalam kawah sebagai bentuk bakti kepada orang tua. Peristiwa memilukan dalam Legenda Roro Anteng inilah yang menjadi cikal bakal pelaksanaan upacara Yadnya Kasada.
Ritual Kasada dilaksanakan setiap tahun pada hari keempat belas bulan Kasada menurut penanggalan tradisional masyarakat suku Tengger. Warga berbondong-bondong mendaki puncak gunung untuk melemparkan hasil bumi, ternak, dan sesajian lainnya ke dalam kawah Bromo. Hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur dan penghormatan atas pengorbanan suci yang dilakukan oleh leluhur mereka.
Upacara ini juga berfungsi sebagai momentum untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga yang tinggal di lereng gunung tersebut. Mereka berdoa bersama memohon keselamatan, kesuburan tanah, dan keberkahan hidup agar terhindar dari segala mara bahaya. Tradisi ini membuktikan bahwa nilai spiritualitas masih terjaga dengan sangat baik di tengah kemajuan zaman modern.
Bagi wisatawan, menyaksikan ritual ini memberikan pengalaman batin yang sangat mendalam mengenai makna sebuah ketulusan dan pengabdian. Keunikan adat istiadat suku Tengger menjadikan Bromo sebagai destinasi wisata budaya yang sangat berharga di Indonesia. Kita dapat belajar bahwa setiap tradisi besar biasanya lahir dari sebuah nilai pengorbanan yang sangat luar biasa.
