Penggunaan tungku dari tanah liat adalah praktik kuno yang telah ada sejak ribuan tahun lalu di berbagai peradaban dunia. Anglo, kompor tradisional Indonesia, adalah salah satu bentuk modern dari tungku kuno tersebut yang berhasil bertahan. Meskipun jejak spesifiknya sulit dilacak, Anglo telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari dapur rumah tangga, terutama di Pulau Jawa, selama berabad-abad.
Sejarah Anglo erat kaitannya dengan inovasi manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk memasak. Desainnya yang sederhana namun efisien menjadi jawaban atas kebutuhan memasak dengan bahan bakar yang mudah didapat, seperti arang. Ini membuat Anglo menjadi alat yang sangat demokratis, dapat digunakan oleh siapa saja, dari petani hingga pedagang kecil.
Anglo memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan. Di banyak desa, Anglo bukan hanya sekadar alat memasak, melainkan juga pusat kegiatan keluarga. Di sekitarnya, orang berkumpul, berbagi cerita, dan menikmati hidangan hangat. Penggunaan tungku Anglo menciptakan suasana kekeluargaan yang khas dan intim.
Secara evolusi, Anglo terus beradaptasi. Dahulu, anglo mungkin hanya terbuat dari gumpalan tanah liat yang dibentuk seadanya. Namun, seiring waktu, para pengrajin mulai menyempurnakan bentuknya, menambahkan lubang udara dan wadah untuk arang, sehingga menciptakan Anglo yang lebih efisien dan tahan lama.
Penggunaan tungku Anglo juga memiliki pengaruh besar terhadap cita rasa masakan tradisional. Makanan yang dimasak dengan arang memiliki aroma dan rasa asap yang unik, memberikan karakter khas yang sulit diduplikasi dengan kompor modern. Sate, gulai, dan berbagai jajanan pasar adalah contoh nyata keunggulan ini.
Di era modern, Anglo menghadapi tantangan dari kompor gas dan listrik. Meskipun demikian, penggunaan tungku ini tetap bertahan, terutama di daerah yang sulit mendapatkan akses gas atau listrik, serta di kalangan pebisnis kuliner yang ingin mempertahankan keaslian rasa. Anglo adalah simbol ketahanan budaya.
Sebagai warisan budaya, Anglo harus terus dilestarikan. Memahami sejarah dan fungsinya adalah cara untuk menghargai kearifan lokal. Anglo adalah bukti bahwa alat sederhana dari masa lalu dapat tetap relevan dan berharga di era serba cepat ini, menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.
