Filipina kembali dilanda musibah besar setelah Badai Bualoi dengan kecepatan angin mencapai 150 kilometer per jam menerjang wilayah tengah dan selatan negara itu pada hari Kamis, 9 Januari 2025. Terjangan topan tropis yang kuat ini membawa serta hujan deras yang tak henti-henti, memicu banjir bandang, tanah longsor, dan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang parah. Hingga laporan ini diturunkan, jumlah korban tewas yang terkonfirmasi telah mencapai belasan jiwa, sementara puluhan ribu warga terpaksa mengungsi. Intensitas Badai Bualoi ini telah memaksa pemerintah Filipina, melalui Badan Penanggulangan Bencana Nasional (National Disaster Risk Reduction and Management Council – NDRRMC), mengeluarkan peringatan bencana di beberapa provinsi.
Pusat Badai Bualoi dilaporkan pertama kali mendarat di Pulau Samar Timur sekitar pukul 04.00 waktu setempat, sebelum bergerak cepat melintasi wilayah Visayas dan Mindanao. Dampak terburuk terasa di Provinsi Leyte, di mana sedikitnya delapan orang tewas akibat tanah longsor yang menimbun pemukiman. Di Provinsi Cebu, banjir setinggi dua meter merendam kota-kota pesisir, mengakibatkan tiga orang meninggal dunia karena terseret arus deras. NDRRMC melaporkan total 14 orang tewas, 21 orang mengalami luka berat, dan lebih dari 45.000 penduduk dievakuasi ke pusat-pusat penampungan sementara yang dikelola oleh Departemen Kesejahteraan Sosial dan Pembangunan (Department of Social Welfare and Development – DSWD).
Operasi penyelamatan dan pencarian korban dilakukan secara intensif oleh tim gabungan yang terdiri dari Tentara Filipina (Armed Forces of the Philippines – AFP), Polisi Nasional Filipina (Philippine National Police – PNP), dan petugas pemadam kebakaran. Juru Bicara PNP, Kolonel Maria Santos, dalam konferensi pers pada Jumat, 10 Januari 2025, mengumumkan bahwa fokus utama saat ini adalah membuka akses jalan yang terputus dan mendistribusikan bantuan darurat. “Kami telah mengerahkan 500 personel tambahan di wilayah Visayas Timur untuk membantu evakuasi dan pengamanan,” ujar Kolonel Santos, sambil menambahkan bahwa kerugian infrastruktur awal diperkirakan mencapai miliaran Peso.
Dampak dari Badai Bualoi tidak hanya terbatas pada hilangnya nyawa dan kerusakan fisik. Sektor pertanian, yang merupakan tulang punggung ekonomi di Filipina tengah, juga mengalami kerugian besar. Di Provinsi Iloilo, lahan pertanian padi seluas lebih dari 3.000 hektar dilaporkan rusak total. Bencana ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan Filipina terhadap topan tropis, yang diperburuk oleh perubahan iklim. Pemerintah Filipina kini berupaya keras untuk memulihkan keadaan, dengan perkiraan bahwa upaya rekonstruksi di daerah terdampak akan memakan waktu minimal tiga bulan, terhitung sejak akhir Januari 2025. Peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci untuk meminimalisir dampak buruk dari bencana alam di masa mendatang.
